Syabab.Com - Kalangan sekuler benar-benar ketakutan dengan arah revolusi Suriah menuju tegaknya Khilafah. Setelah beberapa pekan berturut-turut pemberiaan nama untuk aksi Jumat yang disisipkan kaum sekular sebagai penerus agenda Barat kalah terus, akhirnya pilihan solusi Islam untuk penamaan aksi Jumat kemarin tidak diberikan ruang oleh pihak-pihak sekuler, dikhawatirkan penamaan aksi Jumat akan kembali kepada solusi Islam.
Kampanye aksi "Jumat Satu Umat, Satu Bendera, Satu Peperangan" di Suriah yang sedianya dilaksanakan Jumat kemarin diundur menjadi Jumat depan, 01/03/2013 disebabkan keengganan halaman kaum sekuler revolusi terhadap solusi Islam yang diinginkan rakyat. Namun, di berbagai negeri lainnya, aksi tersebut terus digelar untuk memberikan dukungan terhadap kaum Muslim Suriah.
Kampanye penamaan aksi "Jumat Satu Umat, Satu Bendera dan Satu Peperangan" telah diluncurkan sejak tanggal 02/02/2013, dan mengikuti proses dalam menentukan aksi Jumat pada 22/02/2013. Kampanye ini didukung oleh para aktivis, para ulama, dan pemimpin militer, tetapi halaman revolusi Suriah seperti yang mereka lakukan sebelumnya berusaha menciptakan perselisihan.
Lima nama berbeda diusulkan untuk penamaan aksi Jumat revolusi, nama hanya empat nama yang diterima sementara nama aksi Jumat dengan solusi Islam tidak diterima. Padahal, jumat-jumat sebelumnya, warga telah memilih penamaan aksi Jumat dengan solusi Islam, bahkan mengalahkan penamaan-penamaan yang telah tercampuri agenda Barat.
Pekan lalu, penamaan aksi "Jumat Berpegang Teguhlah Kalian dengan Tali Agama Allah Semuanya dan Janganlah Bercerai Berai" telah dimenangkan telak mengalahkan usulan dari kaum sekuler seperti "Jumat Ya untuk Mendukung Inisiatif Bersyarat Muadz Al-Khatib".
Ini menunjukkan bahwa kaum Muslim Suriah menginginkan revolusi Islam, sementara segelintir kalangan seperti Muadz al-Khatib yang telah mengikuti inisiatif-inisiatif Barat tidak mendapatkan dukungan dari warga Syam.
Terlebih lagi, ketika yel-yel "labaik, labaik ya Allah" atau "Kami tidak akan pernah ruku selain kepada Allah" dan "Umat ingin Khilafah Islamiyyah" yang diteriakkan di lapangan dan jalan-jalan menunjukkan keinginan warga yang sesungguhnya bahwa "revolusi kami, revolusi Islam".
"Kami mengatakan, apakah halaman revolusi Suriah menerima masukkan Iran, Rusia, secara langsung, atau menerima dukungan Amerika secara tidak langsung, dan menerima masukan dari milisi Hizbullah yang berjuang bersama kekuatan rezim?," tanya Abu Bilal al-Homsi.
Selain itu, satu hari menjelang aksi Jumat kemarin, facebook kembali menghapus halaman Revolusi Pemuda Pembebasan Suriah untuk keempat kalinya setelah mencapai 50.000 ribu anggota. Beberapa account lainnya yang serupa pun dihapus. Revolusi Pemuda Pembebasan Suriah, merupakan halaman yang menginformasikan langsung dan mengupdate perkembangan revolusi kaum muslim Suriah yang menginginkan Khilafah.
Berbagai upaya untuk membelokkan arah revolusi Suriah terus dilakukan baik di dalam negeri maupun di luar negeri, terutama oleh tokoh-tokoh Islam sekuler yang telah mendapat hati dari Barat. Namun, darah kaum Muslim Suriah tidaklah murah, kaum Muslim Suriah tidak akan melepaskan arah revolusi mereka, bahwa "revolusi kami, revolusi Islam". Maka seruan-seruan penegakkan Khilafah serta bendera-bendara Rasulullah terus berkibar setiap Jumat dan semakin luas di bumi revolusi Syam, pusat negeri kaum Mukmin. Insya Allah, pertolongan Allah semakin dekat dengan tegaknya Khilafah. [m/yousufdiab/syabab.com]



![Dalam MK Sulut, Ketua Badan Inspektorat Kab Gorontalo Nyatakan Dukung Khilafah [foto] Dalam MK Sulut, Ketua Badan Inspektorat Kab Gorontalo Nyatakan Dukung Khilafah [foto]](http://syabab.com/images/resized/images/resized/images/stories/mk-manado/mk-manado-3_430_250_185_120.jpg)
















