Syabab.Com - Dalam rangka peningkatan pelayanan terhadap pengguna jasa Kereta Rel Listrik (KRL) di wilayah Jabodetabek, PT KAI Commuter Jabodetabek (PT KCJ) secara resmi mengoperasikan rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line khusus wanita, yang akan melayani penumpang dengan rute Jakarta-Bogor, dan sebaliknya serta rute Jatinegara-Bogor.
“Rangkaian khusus wanita ini merupakan program lanjutan dari Kereta Khusus Wanita (KKW) yang diresmikan pada 19 Agustus 2010” ujar Manager Komunikasi Perusahaan PT KAI Commuter Jabodetabek, Eva Chairunisa, Senin (Tribunnews.com 1/10/2012).
Peluncuran ini bersamaan dengan diberlakukannya tarif baru KRL yang naik Rp.2.000,- untuk semua rute perjalanan yang dilayani commuter line. Komunitas pengguna kereta api Jabodetabek yang tergabung dalam kelompok KRL Mania sempat menolak kenaikan tarif tersebut dengan alasan pelayanan belum maksimal.
Namun menurut Mateta Rijalulhaq, PT KAI Daops I pada BBC Indonesia (1/10/2012), “perbaikan pelayanan sudah banyak dilakukan. Memang banyak yang harus dibenahi dan kami menerima masukan atau kritik. Keluhan terbanyak mengenai pendingin ruangan / AC, tapi AC tidak akan baik fungsinya jika jumlah penumpang melebihi dari kapasitasnya."
Wanita Di Ranah Publik
Kebutuhan akan sarana transportasi yang nyaman dan aman bagi wanita memang suatu keharusan. Sering kali kita jumpai kondisi yang tidak aman di dalam saranana transportasi umum yang ditumpangi.
Peluncuran KRL khusus wanita ini memang cukup mengakomodasi kepentingan wanita. Semestinya memang sejak dulu sarana ini ada. Diakui atau tidak, diadakannya KRL khusus wanita ini berangkat dari fakta banyaknya kasus pelecehan seksual terhadap wanita yang beraktivitas di ranah publik, khususnya saat berada dalam sarana transportasi seperti kereta, busway, dan lain-lain.
Namun, sarana ini saja tidak cukup memadai jika diikuti aturan sosial lain yang mengatur secara lengkap, tentang tata cara wanita beraktivitas di ranah publik. Seperti beberapa hal berikut:
Pertama, aturan dalam hal berbusana (menutup aurat bagi wanita), boleh keluar rumah wajib menggunakan khimar dan jilbab. Islam memuliakan perempuan dan menjaganya dari segala sesuatu yang buruk, dengan menetapkan kehidupan khusus (antara sesama perempuan, dan mahramnya), seperti yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala paparkan dalam surat (QS An-Nur: 31, Al-Ahzab: 33), Islam juga mengharamkan bagi perempuan yang bertabarruj (QS Al-Ahzab: 33).
Sistem Islam sangat menjaga kehidupan khusus bagi setiap individu muslim/muslimah, sehingga para perempuan dan mahramnya hidup dengan tentram.
Begitupun Islam menjamin kehidupan umum bagi para perempuan, disertai dengan perlindungan syara' sebagai aturan yang menjaganya. Seperti interaksi antara laki-laki dan perempuan, Islam melarang perempuan berkhalwat dengan bukan mahramnya, bercampur baur dengan laki-laki tanpa mahram (ikhtilat), kecuali yang dibolehkan oleh hukum syara (muamalah/bisnis).
Sehingga interaksi antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai bidang yang dibolehkan syara', menjadi sesuatu yang mashlahat bagi orang banyak. Tetapi dia pun harus memperhatikan rambu-rambu syariah agar tidak menimbulkan kerusakan dan bahaya (fitnah) bagi masyarakat.
Kedua, Ghadhul Bashar yaitu menundukan pandangan mata dari hal-hal yang diharamkan Allah subhanahu wa ta’ala baik wanita maupun laki-laki, baik dengan syahwat ataupun tidak. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman; "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." QS. An-Nur (24) : 30
Dimulai dari yang paling termudah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kita untuk menundukkan pandangan kita. Merendahkan pandangan dari segala hal yang baik maupun yang buruk, namun jangan sampai hal itu membuat kita terus jalan menunduk sepanjang perjalanan, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam hanya menyuruh kita 'merendahkan', bukan 'menurunkkan'.
Terkait dengan realitanya sekarang, terkadang kita temui banyak lelaki yang menundukkan pandangannnya, tetapi ada beberapa wanita yang tetap memandang mereka, atau mungkin sebaliknya. Jika mereka tahu bahwa Ghadul Bashar itu diwajibkan atas muslim dan muslimah terhadap orang-orang yang bukan muhrim mereka, tidak akan mungkin mereka, baik laki-laki maupun perempuan betah memandang lawan jenisnya yang bukan muhrim.
Dengan menundukkan pandangan dari yang melalaikan diri dari Allah Subhanallahu Wa Ta’ala karena balasannya indah bagi mereka yang bisa menahan pandangan. Menahan pandangan akan menutup satu pintu dari beberapa pintu jahanam, mensucikan hati dari pedih dan sakitnya penyesalan, dengan menundukkan pandangan akan melahirkan keteguhan hati, kekuatan dan keberanian, serta terhindar dari ha-hal yang tidak baik seperti pelecehan seksual.
Jadi, bukan jaminan KRL wanita akan menyelesaikan masalah pelecehan. Terlebih jika kaum pria juga tidak dipahamkan secara detail tentang kewajibannya untuk menghormati dan memuliakan wanita.
Kembali kepada Islam
Pasca naiknya tiket Kereta, PT KAI mengeluarkan Kereta Khusus Wanita, Namun sayangnya keberadaan sarana transportasi tersebut belum memberikan solusi dengan pelayanan maksimal, karena pada jam-jam sibuk masih banyak penumpang wanita yang tidak bisa terangkut, bahkan tak jarang penumpang pria yang masih saja salah naik kereta khusus perempuan ini.
Manusia dan alam tidak akan mampu melawan sunatullah. Terbukti aturan Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwa kehidupan laki-laki dan wanita asalnya infishol (terpisah) adalah keniscayaan yang akan membawa kemaslahatan. Aturan ini tentunya ada tujuan di dalamnya, untuk menjaga kemuliaan masing-masing. Menghindarkan dari perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan ketidakbaikan di antara wanita dan pria.
Bisa kita bayangkan apabila wanita dan pria ikhtilat dengan tidak dibatasi oleh hukum syara’, bisa dipastikan yang terjadi adalah hal-hal yang tidak baik, seperti yang sekarang marak terjadi seperti pelecehan seksual di mana-mana.
Kadang terbersit dalam pikiran, dengan aturan itu Islam terkesan mengekang perempuan! Padahal tidak ada pengekangan perempuan dalam Islam, tapi justru mengatur perempuan agar hidupnya menjadi mulia, selamat, tentram, dan bahagia dunia dan akhirat. Begitulah cara Islam menjaga kemuliaan kaum perempuan, menjauhkan mereka dari pekerjaan yang merugikan/sia-sia (tanpa pahala), menghindarkan mereka dari bahaya yang mengancam mereka di luar rumah, dan menjaga kehormatan mereka dari niat jahat orang yang hidup di sekitarnya.
Akhirnya masyarakat akan mengakui kebenaran Islam yang sarat dengan aturan-aturan yang tegas dan jelas tentang interaksi laki-laki dan wanita (Nizhom al-Ijtima’iy).Wallâhu a’lam bish-shawâb. [opini/syabab.com]



![Dalam MK Sulut, Ketua Badan Inspektorat Kab Gorontalo Nyatakan Dukung Khilafah [foto] Dalam MK Sulut, Ketua Badan Inspektorat Kab Gorontalo Nyatakan Dukung Khilafah [foto]](http://syabab.com/images/resized/images/resized/images/stories/mk-manado/mk-manado-3_430_250_185_120.jpg)
















