Syabab.Com - Pelarangan pakaian bagi Muslimah ternyata tidak hanya terjadi di negeri-negeri Barat yang mereka mengaku mengemban ide kebebasan dan hak asasi manusia. Sungguh sangat menyedihkan, pelarangan jilbab malah terjadi di negeri bermayoritas Muslim terbesar di dunia ini. Lebih menyedihkannya lagi, itu terjadi di dunia pendidikan. Seperti diberitakan banjamarmasinpost, para orang tua murid SMPN 4 Selat Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah, mengeluhkan sikap sekolah yang menerapkan larangan muridnya mengenakan jilbab.
Kepala Sekolah SMPN 4 Ragus Rumbang tidak menepis pelarangan tersebut, "Itu peraturan sekolah dan hasil keputusan rapat dewan guru. Jadi bukan keputusan kepala sekolah," kata Ragus.
Dia beralasan, keputusan ini sebagai kebijakan dalam otonomi sekolah, meski pemerintah sendiri tidak melakukan pelarangan terhadap hal itu. "Kalau kembali ke otonomi, sekolah tidak berhak mengatur dan itu keputusan sekolah sesuai otonomi sekolah," tutur dia.
Lebih lanjut, dia menerangkan, larangan murid perempuan memakai jilbab diberlakukan agar terjadi keseragaman dan tidak terjadi pengelompokan antara murid Muslim dan non-Muslim. Dia menegaskan, hal itu sudah berlangsung sejak lama dan telah menjadi tata tertib di sekolah itu.
Saat pendaftaran, menurut dia, para calon siswa baru juga sudah dijelaskan tentang tata tertib itu. "Saat pendaftaran sudah dijelaskan tentang peraturan dan tata tertib itu, termasuk jenis pakaian yang wajib dipakai. Dari situ semestinya bisa dipahami," imbuh dia.
Mendiknas Mengecam Keras
Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh mengecam keras pelarangan penggunaan jilbab di SMPN 4 Kuala Kapuas tersebut. Menurut Mendiknas, larangan penggunaan jibab tersebut mengada-ada.
“Terlalu mengada-ada, di tempat lain tak masalah,” kata Mendiknas kepada Republika, usai menghadiri perayaan Hari Anak Nasional di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Jumat (23/7).
Mendiknas sempat kaget saat ditanyai perihal larangan penggunaan jilbab di SMPN 4 Kuala Kapuas itu. Bahkan, Mantan Rektor Institut Sepuluh November (ITS) itu sempat tidak mempercayai kebenaran berita tersebut.
“Masa sih. Itu perkara lama, nggak ada ceritanya. Kami minta sekolah akomodasikan hal-hal terkait dengan agama untuk tetap menampung siswa berjilbab,” tegas M Nuh.
Menurut Mendiknas, pendidikan karakter justru terkait dengan keagamaan, seperti halnya dengan cara berpakaian. Dia mengatakan hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan baik untuk membangun karakter murid.
Masih Banyak Lagi Kasus
Sebenarnya masih banyak kasus serupa, terutama kasus pelarangan pakaian Muslimah yang sempurna (jilbab) bagi para pelajar puteri, hanya saja jarang terangkat oleh media. Atas nama peraturan sekolah, beberapa murid puteri di beberapa sekolah dilarang untuk menaati salah satu perintah Allah Swt., yakni mengenakan ilbab sempurna.
Bukan hanya itu, ada upaya penjauhan anak-anak muslimah dari mengenakan pakaian muslimah melalui beberapa program. Sebut saja, di beberapa sekolah, para pelajar puteri beragama Muslim terpaksa mengumbar aurat melalui beberapa program, seperti praktik olahraga (renang/voley/basket untuk puteri) dan kegiatan ekstrakurikuler serta program hiburan terutama untuk kenaikan kelas.
Identitas muslimah pun lenyap. Tanpa disadari, keluarga pun cuek ketika anak-anaknya digiring untuk mengumbar aurat. Lebih berat lagi, serangan budaya di luar begitu gencarnya. Melalui program yang mengatasnamakan hiburan di layar kaca, baik melalui sinetron atau acara lainnya terus menerus memberikan contoh jelek dalam berpakaian yang jauh dari nilai-nilai ketaatan kepada Sang Pencipta.
Walhasil, merebaklah generasi puteri yang mengaku beragama Islam dengan berpakaian ala model, selebritis, dan jauh dari kemuliaan yang hanya membuat dosa bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Tentu saja, pihak sekolah, orang tua, pengelola televisi dan lingkungan masyarakat bertanggungjawab besar yang telah membuat karakter generasi Muslimah sehingga berani mengumbar aurat. Di akhirat kelak mereka akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah Swt.
Demikianlah, upaya perusakkan generasi Muslimah yang telah memalingkan mereka dari ketaatan kepada Sang Pencipta, Allah Swt., terjadi melalui sinetron tak bermakna, dan kompetisi-kompetisi yang mengumbar aurat, seperti modeling, tarik suara, termasuk juga beberapa permaiann olahraga. Sampai kapan, identitas Muslimah tersebut hilang?
Sudah saatnya kaum Muslim menguatkan akidah dan ketaatan mereka kepada Sang Pencipta, dan menyelematkan generasi muda dari kebebasan sekularisme hanya dengan Islam. Insya Allah, Khilafah Rasyidah akan menyelamatkan generasi Muslim dari kerusakkan. Tak akan lama lagi. [m/rep/bnjrpost/syabab.com]





Syabab.Com - Anda mungkin pernah mendengar pernyataan begini. Bahwa Imlek itu hanyalah tradisi dan bukan bagian ajaran agama tertentu. Karenanya umat Islam khususnya yang...
Syabab.Com - Secara fitrah, menikah akan memberikan ketenangan (ithmi'nân/ thuma’nînah) bagi setiap manusia, asalkan pernikahannya dilakukan sesuai dengan aturan Alla...
Syabab.Com - Kaum muslim yang sudah menginjak akil baligh wajib menempuh keimanan dengan jalan yang benar. Dengan memahami jalan menuju iman yang benar akan membentuk kei...